Sejak kecil, saya sudah memimpikan kehidupan yang serba indah, ketenangan yang penuh. Bayangan itu, adalah lingkungan rumah yang hijau dengan jenih tanaman yang beragam tertata rapih, udara yang dingin dan sejuk, serta manusia yang sedikit. Mungkin, sedikit alunan musik yang mengiringi.
Gemericik air yang jatuh dari ketinggian, kemudian mengalir melalui sungai keci. Airnya jernih, terlihat bebatuan yang memantulkan sinar matahari. Serta ikan-ikan yang berenang menantang arus, juga sesekali menyerahkan diri pada derasnya.
Angin yang berhembus itu, mengusap kulit dengan lembut.
Saya, yang merindukan kehidupan menyendiri. Menyeruput air hangat, kemudian kembali memandangi salah satu keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depan mata ini.
Dahulu, saya memiliki impian untuk hidup di hutan. Berkeluarga, tanpa harus ada yang mengganggu. Membuat rumah yang sederhana, dari kayu. Kemudian berkebun, memetik buah-buah-an untuk dinikmati.
Saya, yang tidak bisa mengontrol pikiran manusia, enggan bertengkar dengannya. Memiliki impian untuk menghindari pertikaian itu. Memilih untuk hidup dengan berbagai makhluk Allah ta'ala yang indah.
Namun, ternyata fakta tidak demikian. Kehidupan sebenarnya adalah bersama-sama, dengan manusia lainnya. Menjadi bagian dari apa yang telah diserukan oleh sang Pencipta melalui Nabi Nya yang mulia.
Dan fitrah itu, menjadi suatu hal yang nyata untuk setiap impian semua orang. Tentang kehidupan yang nyaman, tenteram serta bahagia. Kehidupan yang mungkin, ingin menjadi hal yang dominan disetiap detik hidupnya. Namun realita berbicara bahwa bersama-sama adalah keharusan untuk setiap insan manusia.

0 Komentar