Semalam (11/09/2025) Pukul 21.00 Saya diajak oleh teman untuk menjenguk tetangga yang baru pulang dari Rumah Sakit pasca di operasi, berkunjunglah dan menyimak apa yang disampaikan. Ada hikmah yang teramat besar bagi saya dalam kunjungan tersebut dan tentu, harusnya menjadi nasihat yang teramat penting untuk perbaikan kehidupan.

Tetangga tersebut, namanya pak Agil. Berkisah tentang pengalamannya dioperasi, ketakutannya yang membuat ia bergetar hebat dan harus disuntik cairan penenang agat tidak mengganggu pelaksanaan operasi. Sakitnya adalah usus buntu. 

Di suntik bius pada dua titik berbeda, dengan rasa yang teramat sakit. Bayangkan, jarum suntik menembus kulit dan masuk ke sumsum tulang, bagaimana rasanya? Pasti sakit bukan? Sakit sekali.

Sakitnya belum selesai di situ, ia harus merasakan sakit setelah itu dalam proses pemulihan pasca habisnya dosis bius, punggung serasa dibakar, panas sekali. Pengembalian dari tak terasa menjadi terasa kembali, bagaimana tidak terbayang bagaimana pengambilan ruh dari jasad? Pantas saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan betapa sakitnya sakaratul maut. Lebih-lebih dari sekembalinya kondisi tubuh pasca habisnya dosis bius. Tak terbayangkan, pasti sakit sekali.

Pantas saja, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta kepada Allah Arrahiim untuk meringankan sakitnya sakaratul maut ummatnya dan malah minta ditimpakan sakitnya itu kepada Rasulullah saja. Yaa Allaah, makin cinta ini kepada baginda, Engkau maha Rahiim dan Rasulullah juga amat luas Rahiim nya kepada kami. Malu rasa nya kami ini, telah dikasihi oleh Engkau yang maha rahiim dan Rasulullah yang sangat besar kasih sayang nya, masih saja berbuat dosa.

Tak terbayangkan, maka ringankanlah yaa Allah sakitnya, dan ampunilah kami wahai Engkau sang maha pengampun, Engkau sang maha pemaaf.

Izinkan kami berbagi ini kepada semua khalayak.

gambar hanya ilustrasi